Busuk Buah Kakao (Phytophthora palmivora)
Taksonomi
Kingdom : Stramenophiles
Kelas : Oomycetes
Ordo : Peronosporales
Famili : Pythiaceae
Genus : Phytophthora
Spesies : Phytophtora palmivora Butler
Morfologi
Phytophthora merupakan marga yang memiliki sporangium yang jelas berbentuk seperti buah jeruk nipis dengan tonjolan di ujungnya. Sporangium ini tidak tahan kering, jika ada air maka sporangium ini akan melepaskan zoospora-nya. Zoospora berenang-renang kemudian membentuk kista pada permukaan tanaman dan akhirnya berkecambah dengan menghasilkan hifa yang pipih yang masuk ke dalam jaringan inang (Gregor, 1984). Pada perkecambahan secara tidak langsung diferensiasi zoospora terjadi di dalam sporangium. Cendawan P. palmivora merupakan cendawan yang mempunyai miselium yang menghasilkan oospora dan zoosporangium. Zoospora mempunyai bulu cambuk. Spora seksual (oospora) dihasilkan oleh penyatu gamet yang berbeda secara morfologi (Agrios, 1996). Zoosporangium dihasilkan sepanjang hifa somatik atau pada ujung hifa dan seperangkat hifa bebas. Sporangium berukuran 36 - 80 x 26 - 40 (av 57 x 34) mikron. Oogonium berkisar 26 - 36 dan 22 - 32 mikron. Klamidospora siap dibentuk yang memiliki ukuran 32 - 48 mikron (Jhonson, et al., 1999).
Zoospora keluar satu persatu melalui papilia yang terdapat pada ujung sporangium. Zoospora mempunyai dua flagella yang tidak sama panjangnya. Pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron diketahui bahwa flagella yang pendek (anterior) mempunyai benang-benang yang disebut mastigonema, sedang yang panjang (posterior) berbulu sangat halus. Jenis Phytophthora sp. tertentu membentuk klamidospora bulat, terminal atau interkalar, berdinding agak tebal, mula-mula hialin, akhirnya berwarna kecoklat-coklatan (Semangun, 1991).
Daur Hidup
Cendawan yang mengadakan infeksi pada buah dapat bersumber dari tanah, batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya (Semangun, 1996).
P. palmivora terutama bertahan dalam tanah. Dari sini dapat terbawa oleh percikan air hujan ke buah-buah yang dekat tanah. Setelah mengadakan infeksi, dalam waktu beberapa hari P. palmivora pada buah dapat menghasilkan sporangium. Sporangium dapat terbawa oleh percikan air atau oleh angin dan mencapai buah-buah yang lebih tinggi. Cendawan berada dalam tanah dapat juga terangkut oleh serangga, antara lain semut, sehingga dapat mencapai buah-buah yang tinggi. Dari buah-buah yang tinggi, sporangium dapat terbawa air ke buah-buah dibawahnya (Semangun, 1996). Cendawan ini dapat bertahan dalam berbulan-bulan di dalam tanah dalam bentuk siste (Khlamidospora) (Susanto, 1995).
Dari buah yang terserang P. palmivora dapat berkembang melalui tangkai dan menyerang bantalan bunga, dan dapat berkembang terus sehingga menyebabkan terjadinya, penyakit kanker batang. Dari sini kelak dapat kembali menyerang buah (Semangun, 1996).
Infeksi P. palmivora dapat langsung terjadi antar buah melalui percikan air hujan melalui permukaan tanah, serangga,. Biji didalam buah akan rusak selang 15 hari setelah terinfeksi (Siregar dkk, 2000).
P. palmivora dapat menyerang bermacam-macam tanaman. Meskipun demikian belum diketahui dengan pasti dari berbagai tanaman tadi semuanya dapat menimbulkan penyakit pada kakao (Susanto, 1995).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sumber infeksi selalu ada. Namun yang dianggap sebagai sumber infeksi yang paling utama adalah tanah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengendalikan P. palmivora di dalam tanah tetapi tidak memberikan hasil yang memuaskan (Susanto, 1995).
Gejala Serangan
Infeksi P. palmivora pada buah menunjukkan gejala bercak berwarna kelabu kehitaman. Biasanya bercak tersebut terdapat pada ujung buah. Bercak mengandung air yang kemudian berkembang sehingga menunjukkan warna hitam. Bagian buah menjadi busuk dan biji pun turut membusuk. Pembentukan spora terlihat dengan adanya warna putih di atas bercak hitam yang telah meluas. Pada temperatur 27,5 sampai 30o C pertumbuhan spora ini sangat cepat. Infeksi P. palmivora dicirikan dengan adanya bercak berwarna coklat yang mulai dari bagian mana saja. Jaringan yang tidak terinfeksi tampak jelas dan dibatasi oleh permukaan kasar, tetapi bercak dapat berkembang dengan cepat dan seringkali menampakkan pembusukan yang menyeluruh dan berwarna hitam. Pertumbuhan cendawan pada bagian-bagian luar kakao lebih cepat, tetapi infeksi yang menyeluruh dapat menyebabkan kerusakan pada biji (Cook, 1978).
Busuk buah dapat ditemukan pada semua tingkatan buah, sejak buah masih kecil sampai menjelang masak warna buah berubah, umumnya mulai ujung buah atau dekat dengan tangkai kemudian meluas keseluruh permukaan buah dan akhirnya buah menjadi hitam. Pada permukaan buah yang sakit dan menjadi hitam tadi timbul lapisan berwarna putih tepung yang merupakan cendawan sekunder yang banyak membentuk spora. Pada permukaan buah juga banyak ditemukan sporangiofor dan sporangium cendawan.
Kerusakan oleh P. palmivora dapat bervariasi mulai ringan, sedang sampai buah tidak dapat dipanen. Kerusakan berat bila cendawan ini masuk kedalam buah dan menyebabkan pembusukan pada biji. Bila menyerang buah pentil, menyebabkan buah termumifikasi sedangkan serangan pada buah muda menyebabkan pertumbuhan biji terganggu yaitu menjadi lunak dan berwarna coklat kehijau-hijauan dan akibatnya mempengaruhi penurunan kualitas biji. Serangan pada buah yang hampir masak tidak begitu berpengaruh pada pertumbuhan biji namun terjadi biji lembek dan akhirnya penurunan aroma biji yang kurang baik (Semangun, 1996).
Dalam keadaan lembab, cendawan ini dapat berkembang biak dengan cepat. Penyebaran spora dari sumber infeksi ke tempat lain dibantu oleh percikan air dari tanah ke buah bagian bawah, kemudian dari buah yang terinfeksi kebuah yang sehat dengan perantara serangga dan akibat gesekan antar buah yang sakit dengan buah yang sehat dalam kondisi yang baik.
Penyakit P. palmivora ini dapat dikendalikan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian seperti varietas tahan, kultur teknis, secara mekanis dan secara kimiawi (Anonim 2001).
Varietas resisten
Menanam klon-klon yang relatif resisten terhadap penyakit busuk buah P. palmivora yaitu DRC 16, Sca 6, Sca 12 dan ICS 6.
Kultur Teknis
Mengatur kelembaban kebun agar tidak terlalu tinggi, dengan cara mengatur naungan, pemangkasan tanaman kakao dan kebersihan kebun dari gulma. Drainase kebun, diperbaiki agar perkembangan penyakit terhambat.
Mekanis
Buah-buah yang busuk di pohon diambil dan dikumpulkan, kemudian dipendam sedalam kurang lebih 30 cm dari permukaan tanah serta diberi larutan kapur dan Urea atau belerang. Hal ini dapat menekan sumber infeksi serendah mungkin sehingga terhambat terjadinya infeksi baru.
Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan fungisida. Fungisida yang dapat digunakan adalah fugisida tembaga 0,3 %, dengan interval dua minggu, dan fungisida maneb 0,2 % dengan interval 1 – 2 minggu. Penyemprotan dengan menggunakan knapsack sprayer dengan volume semprot 500 1/hari dan dilakukan pada saat buah sebagian besar telah berumur tiga bulan atau panjang buah sekitar 12 cm.
Pestisida
Pengertian dan Manfaat
Pestisida merupakan salah satu teknologi pengendalian hama yang telah lama digunakan sejak awal abad 19 sampai sekarang. Pestisida merupakan zat kimia, zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan antara lain untuk melindungi tanaman dari gangguan hama, penyakit dan gulma yang merugikan. Bila pestisida efektif, waktu dan metode aplikasinya tepat, populasi hama dan tingkat serangan penyakit dapat diturunkan untuk sementara, tetapi tidak akan dapat dan tidak mungkin dihabiskan sama sekali (Oka, 1995).
Prinsip Aplikasi Lima Tepat
Tepat jenis dan mutu
Dalam menanggulangi OPT diperlukan pengendalian yang aman, efektif dan efisien. Untuk itu, dalam memilih jenis pestisida perlu diperhatikan hal-hal berikut: (1) formulasi pestisida yang digunakan masih terdaftar atau diizinkan pada jasad pengganggu dan komoditi sasaran yang dianjurkan; (2) bentuk formulasi sesuai dengan komoditi sasaran dan alat aplikasi yang dipakai. Pemilihan jenis pestisida yang digunakan dimaksudkan untuk mengurangi dampak samping yang ditimbulkan sehingga pestisida harus efektif dan selektif terhadap OPT sasaran, daya racun rendah serta mudah terurai. (3) Tepat mutu; wadah pestisida masih asli (bukan hasil pewadahan kembali); wadah masih baik, tidak rusak, tidak berkarat, bocor dsb.; label masih ada dan lengkap, jelas terbaca sehingga mudah dilihat tahun produksinya dan batas kadaluwarsa.
Tepat Waktu
Aplikasi pestisida diusahakan sesuai dengan anjuran yang tertera pada label dengan memperhatikan: (1) ambang pengendalian atau ambang ekonomi yang berlaku; (2) stadia hidup jasad sasaran yang perlu dilakukan pengendalian; (3) stadia pertumbuhan tanaman yang diaplikasi; dan (4) keadaan cuaca yang memungkinkan; diusahakan aplikasi tidak dilakukan pada saat cuaca dalam keadaan hujan atau menjelang hujan serta tidak saat angin bertiup kencang. Banyak petani yang melakukan aplikasi pestisida secara berjadwal sehingga cenderung berkelebihan. Hal ini dapat menimbulkan terjadinya ledakan populasi hama dan resistensi hama.
Tepat Cara
Penggunaan pestisida agar efektif dan efisien perlu menggunakan alat penyemprot yang tepat, sesuai dengan jenis, bentuk, formulasi dan jumlah pestisida yang digunakan. Selain itu perlu diperhatikan bagian tanaman yang akan diaplikasi. Cara aplikasi yang benar diuraikan di bab-bab berikutnya.
Tepat Konsentrasi
Penggunaan pestisida hendaknya sesuai antara konsentrasi cairan semprot yang dianjurkan sesuai dengan alat aplikasi yang digunakan. Konsentrasi cairan semprot dinyatakan dengan volume pestisida di dalam satu liter cairan semprot/aplikasi. Agar aplikasi pestisida lebih efektif, perlu diperhatikan: (1) petunjuk penggunaan yang tercantum pada label; (2) bahan pelarut (air) yang digunakan sedapat mungkin tidak mempengaruhi bahan aktif formulasi sehingga tidak menurunkan toksisitasnya, misal dengan tidak menggunakan air keruh atau yang bersifat alkalis.
Tepat Dosis
Konsentrasi yang tepat untuk pestisida berhubungan dengan dosis aplikasinya. Dosis aplikasi pestisida adalah bahan aktif pestisida yang digunakan pada areal seluas satu hektar/satuan tertentu atau banyaknya cairan semprot per satuan luas/ satuan tertentu. Untuk itu agar aplikasi pestisida dapat seefektif dan seefien mungkin perlu digunakan dosis dan konsentrasi yang tepat sesuai dengan petunjuk penggunaan yang dianjurkan pada label dan petunjuk pencampuran pestisida yang tepat untuk memperoleh konsentrasi yang tepat.
Fungisida
Pada umumnya fungisida adalah sebagai protektan dan seharusnya berada pada permukaan tanaman sebelum patogen menyerang untuk mencegah terjadinya infeksi dan sebagian pula bersifat eradikatif terhadap patogen yang telah menyerang daun, batang dan buah (Agrios, 1996).
Fungisida sistemik dapat memasuki jaringan tumbuhan dan dapat berpengaruh di tempat yang jauh dari tempatnya semula. Sifat ini berdampak baik untuk mengendalikan patogen yang berada dalam jaringan tanaman (Sastroutomo, 1992).
Sugiharso (1980), mengemukakan bahwa fungisida karbendazim-mankozeb tergolong ke dalam senyawa karbamat yang memiliki daya racun yang rendah terhadap tanaman, binatang dan manusia serta bertahan lebih lama dan lebih aman bagi hasil panen.
Fungisida-fungisida yang banyak digunakan untuk P. palmivora diantaranya Dithane M-45 atau Manzate 6 masing-masing 800 gr dan 400 gram per ha, Ridomil (0,75 kg) dicampur dengan Cuprox (2,24 gr) per 100 liter air untuk tiap Ha, fungisida Metallic Copper 2,4 kg per ha (Siregar et al., 2002). Fungisida berbahan aktif tembaga (Copper Sandoz, Nordox, Cupravit, Vitigran Blue) dengan konsentrasi 0,3 persen, interval waktu 2 minggu (Anonim, 2004). Waro (1997), mengemukakan bahwa fungisida yang banyak digunakan diantaranya adalah jenis Fosetil-Al dan Ridomil 250 EC (Metalaxil) dan Kocide 101 menghasilkan produksi yang baik dan tahan terhadap P. palmivora.
serta yang terbaru dan masih dalam evaluasi menggunakan Trivia, Revus dan Amistartop

Tidak ada komentar:
Posting Komentar